what's left in my memory and new in my mind

Hai kamu yang diujung sanaa!! (teriak ala rhoma).. apaa kabarrr??

aduh, ga ada kerjaan atau sebenernya males bekerja. sebenernya gw merasa terdorong untuk menulis sesuatu yang menyenangkan menyadari temen-temen gw banyak yang bilang "ih, blog lo ga asik lagi sa, banyakan seriusnya, ga lucu lagi"...duileeee, dikata gw nulis buat nyenengin hati orang-orang kali yeee..

honestly, gw rada bingung sama hidup gw yang penuh kejutan gila sepanjang tiga bulan terakhir. tapi kejutan yang paling lunar binasa ialah *mudah-mudahan* i think i have found my sigaraning jiwo*. woohoooo!!!

aniwei, tadi pagi, tiba-tiba secarik kalimat ym membuat gw tertegun, agak jengah harus bersikap bagaimana menanggapi si pengirim pesan. i ended up bersikap rada cool *dalam artian yang kau tahu yang kumaksud* hihihi...

kadang absurd juga kelakuan orang ini. anggaplah si pengirim pesan ini bernama pedi.

pedi: "pagi"

membalas 3 menit kemudian, dan ini berlangsung seperti itu sampai kesudahan obrolan rada garing di pagi hari.

saya: "pagi"

pedi: "pa kabar?"

saya: "baik and you?"

pedi: ".... aku baik, kamu?"

dong dong dong...bukannya gw dah jawab ya boook?? dooh!

saya:  *terdiam mode, tak membalas*

pedi: "...aku mimpi inget k ***"

saya: "oh, bagus juga bunga tidur itu. berarti tidurnya nyenyak. ok deh."

pedi: " bunga?"

        "hmm dapet bunga ya?"

        "selamat ya"

hee?! maksudnyee apa sihhh, ngerti bahasa indonesia atau emang ngenye gw emang baru dapet bunga.hih, mulai absurd.

saya: "thank you"

pedi: "ok"

Yah, obrolan yang suangat tidak penting di pagi hari. Bingung gw, kenapa yak'. Well, we had something in the past, lah gw ga urusan ma apa-apa beliau yang dituakan ini kok ya kesannya ngenye gitu ke gw. Cieeh, sok sensitib.

Uniknya temen gw mengingatkan gw untuk bersikap sesuai omongan dia,  hey you should thank him. he gave some impact towards you  in a way. you are what you are now (stronger), it's also because of what happened in the past rite?!

Pikir gw, betul juga yak.

So what's new in my mind?  Tagihan kartu kredit yang menyebalkan.huahahaha...yah gimana engga yah bow, beli alat2 diving aja gitu kemariin, belum lagi pasang retiner gigi setelah lepas kawat yang dengan sukses meludeskan penghasilan ku yang belum seberapa. Belum cukup dengan itu, membeli baju terusan malam mengingat banyaknya ajang pernikahan di mana-mana dan gw dah mati gaya.hhihihi

But what is really new for me is a relation I have now that makes me laugh every single time. Dredeg aku sama mas ku, caelaaaahhh!!... We're basket ball player,we're diver, we're lover, we're partner in crime, we're joker, we're black, we're cooler than ever! and yes he's given me flowers..lovely. you're so lovely dear! Never ever accross in my mind that I would fell in love with this guy when i first saw him. Well, I mean, he's jawa, what on earth, a very batak gurl like me fall in with jawa? kekekeke... :-) But here we are now, sweetheart!

kisses!

                            

O God, thank you so much

Here i am, on the second last day in my office, wondering what my life looks like for the the past 12 months.

Sedih? Pasti. Namun semangat yang dulu selalu saya miliki telah kembali terikat dalam ruh kehidupan ini.

It's been a while i havent write any of my thoughts on this blog nor my other blog. Well,my life for the past 12 months has sharpened me into stronger man and it's because of Him.

Menyadari bahwa saya pernah ingin melepaskan nafas dari jiwa ini cukup ironis. Saya pikir saya adalah orang yang tangguh seperti anggapan kebanyakan teman-teman saya. Ternyata saya tak lebih dari seorang manusia yang terkadang larut dalam masalah hingga menutup lubang untuk secercah sinar kehidupan.

Tidak mudah manakala menapaki bulan-bulan kekelaman. Semua penat yang ada di bahu memaksa saya untuk berjalan tertunduk dan duduk terkulai senantiasa sepanjang hari. Pandangan menerawang jauh meminta Ia untuk memanggil saya pulang kerap saya lakukan bahkan ketika saya berada dalam keramaian sekalipun.

Cukup waktu untuk memberanikan diri padaNya untuk memberikan tanda jalan mana yang saya harus pilih. Dari langkah itu saya benar-benar bisa mendapatkan jawabanNya walau rupaya saya tidak seberuntung seorang penulis "Heaven is Real" dari China yang saya lupa namanya dan dia mampu berkomunikasi langsung denganNya, literally.

Ternyata kita harus sadar jawaban Dia bukanlah dan tidak pernah harus sesuai dengan kemauan kita. Dia tahu apa yang kita perlukan. Dia tahu apa yang terbaik untuk kita. Dia biarkan cobaan menghujam habis jiwa dan segala asa yang kita punya karena Dia punya rencana indah di depan. Jawaban "tidak" mutlak hak yang dimilikiNya.

Kesabaran saya diuji luar biasa. Tidak saya pungkiri, semua kekalutan mempengaruhi pola kerja saya, hubungan saya dengan teman dan keluarga dan yang lebih menyakitkan ialah merasakan bahwa ada mahluk lain yang siap mengambil nyawa saya di suatu malam.

Saya bersyukur saya pernah melewati masa hitam dalam hidup saya. Dan hari ini saya berdiri diatas kaki saya sendiri, melangkah untuk melanjutkan cita-cita saya, merubah alur cerita hidup saya hingga kala waktunya saya akan menghebuskan nafas saya yang terakhir, saya dapat dengan bangga berkata "I'm glad You gave me a second chance to give You back, O Lord".

Uniknya, saya semakin menyadari material dalam hidup ini benar-benar hanya untuk kesenangan semata. "Pikirkan yang diatas bukan yang di bumi" tertulis dalam suatu kitab. Dan itu benar adanya.

Apakah saya masih sering jatuh bahkan sesudah saya memproklamirkan kemenangan saya atas peperangan batin saya? Jawabannya ya. Namun sungguh saya menyikapi diri saya dengan pandangan yang jauh lebih baik. Saya bukan orang yang sempurna namun saya akan terus memacu diri saya lebih keras hingga pada kesudahannya.

Menghirup udara dan melangkah dengan guratan senyum di wajah saya adalah penanda bahwa saya menang atas semua pergulatan ini. Tidak ada akar pahit. Tidak ada kekhawatiran. I'm strong because of Him. He was,He is and He will always be there for me.

Kawan, jangan bergantung kepada dirimu ataupun pada orang lain. Bersandarlah padaNya yang empunya hidupmu.

Tabik,

Sari

I'm BACK

Wah  sudah lama banget ga nulis nulis di blog ini... ntar ya, tulis2 lagi,,,,,

question

pagi,siang,sore,malam,dini hari..

24 hours a day..

well, rite, i think everyone's aware about it..

i believe i'm not the only person who is aware that we have to face 'un-seen battle' every single day.

kondisi jatuh bangun yang gw hadapi pasti kurang lebih sama dirasakan orang lain. terus mau gw apa? so what? semua orang punya masalahnya sendiri-sendiri.orang juga bosan mendengar keluh-kesah yang ga ada habis-habisnya? pada saatnya orang akan memilih diam dalam kepusingannya daripada bercerita ke temannya (secara ada saatnya sang teman 'penuh' dengan curhatan kita.seakan ga pernah puas dengan gali lubang tutup lubang, gw lari dan melampiaskan kebingungan dengan segala urusan tetek bengek.

setiap hari manusia ditawarkan segala kenikmatan dunia. lalu kalau gw mencicipi semua itu, tidak salah kan? keegoisan membawa diri ini mengambil semua sari yang ditawarkan dunia. nikmat memang, lalu apa? tetap saja ada kekosongan yang membuat gw ga mampu untuk menahan diri ini bertanya-tanya?

menghabiskan 24 jam dengan membagi 8 jam 'bekerja' (atau mungkin tidak bekerja-browsing internet, chatting pada saat bekerja,baca kolom gosip, lihat you tube yang konyol2x,baca koran atau bahkan baca komik-you name it), 2 jam perjalanan rumah-kantor-rumah, 2 jam untuk urusan makan dan mandi, 3 jam untuk bersosialisasi (ngegosip atau syukur-syukur untuk sekadar memasukkan informasi terbaru dari teman ke otak kita ini-kali aja dapet projectan-), 2 jam untuk membakar lemak-lemak di tubuh (yah sambil lihat-lihat pemandangan di tempat fitness -ceunah), lalu sisa jam-jam berikutnya diisi dengan melihat acara tv atau dvd dan tidur (syukur-syukur kebangun pada waktunya dan bukan sebelum waktunya).

terus apa itu semua memberi arti buat jiwa? (duile,pertanyaan apa lagi?!) tapi itu pertanyaan yang gw geluti. orang bisa punya semua hal di dunia ini. orang bisa menginjakkan kaki entah di kota apa di seluruh penjuru tempat wisata. orang bisa meminum berbotol-botol wine atau apapun itu atas nama pleasure. orang bisa mendatangi seluruh tempat hang out teryahud di sudut selatan jakarta. orang bisa menghabiskan uang untuk ngurusin muka atau badan (seperti papan reklame di senopati, 'beauty is everything'). orang bisa memilih hidup untuk hari ini, besok, emang gw pikirin (bener sih, masalah hari ini cukuplah untuk hari ini, esok hari punya masalahnya sendiri).orang bisa memilih memiliki pasangan lebih dari satu (salut gw untuk yang satu ini).

pertanyaannya kemudian, apa itu semua buat jiwa tenang? You tell me.

berperang dengan diri sendiri untuk mencari ketenangan jiwa,itu yang gw rasakan. adalah benar,manusia itu bukan mesin. walau perjalanan hidup gw masih seumur jagung, tapi gw sadari gw butuh 'oli' dan gw yakin makanan jiwa cuman satu. melepaskan 'diri' supaya menjadi bisa menyerap 'oli' (alamakkk, gini hari sa?!) bukan gampang. lah emang udah karatan,apa ga perlu di'oli'in?!

hmm, gw jadi bingung, tujuan hidup gw sebenarnya apa ya? what is the reason for being?

terus, emangnya salah kalau orang mencicipi segala kenikmatan dunia atau supaya cantik dan bergaya? gw rasa semua orang punya pilihannya masing-masing.

suara lo bukan suara lo yang dulu

Ungkapan yang sering gw denger sekarang untuk orang itu.

Semua orang juga pernah berada dalam masa-masa suram dalam hidup. Tapi kalau sampai seseorang merasakan tulang sampai linu berbulan-bulan baru depresi berat namanya.

Gw kenal dengan seseorang yang sedang menjalani masa gelap. Saking meratapi masa gelapnya, dia benar-benar suka sama tempat yang gelap-gelap. Semisal kamar tidur jarang banget lampunya dinyalain. Rumah yang notabene sedang ditinggali penghuninya dibiarkan gelap. "Yang penting AC menyala di kamar gw" katanya.

Gw sendiri sudah berusaha kasih semangat buat dia. Tapi apa daya. Dia terlalu kepahitan sampai jengah juga melihatnya. Tatapan matanya bukan seperti orang yang gw kenal sekurangnya setahun yang lalu. Dikala dia bekerja ataupun bersama teman-temannya yang juga teman gw, pandangannya selalu jauh entah kemana. Kadang, helaan nafas berulang kali terdengar. Rasanya hidup berat banget.

Kalau lihat fisiknya lebih parah lagi. Kepahitan buat dia ga peduli dengan dirinya. Sampai kapan, gw ga tau. Dua hari yang lalu temannya menelpon dari negara nun jauh disana. Yang ada malah temannya itu dua kali bertanya apa dia berbicara dengan orang yang dimaksud.

----- berhenti sampai disitu,ri.

Proporsi Masyarakat Miskin di Indonesia

Di sela-sela mengumpulkan data guna kebutuhan kampanye yang akan diangkat dalam waktu dekat ini, saya membaca dokumen mengenai proposi masyarakat miskin di Indonesia. Tidak mengagetkan jika saya melihat total masyarakat miskin Indonesia. Sepekan yang lalu, media massa dihebohkan pernyataan turunnya proporsi masyarakat miskin di Indonesia. Saya tergelitik oleh ucapan seorang pengisi acara tv yang berkata "yaa..bisa saja proporsi masyarakat miskin turun..tapi bisa jadi proporsi tersebut diturunkan menjadi proporsi masyarakat sangat miskin". Walau itu adalah opini,saya tidak menyangkal hal tersebut bisa jadi benar adanya. Jika ya, sungguh ironis.

Sekali waktu saya bertanya dengan seorang kolega sebenarnya berapa total masyarakat miskin di Indonesia. Dia sendiri menjawab sulit untuk menjabarkan angka tersebut karena indikator ataupun garis kemiskinan yang dimiliki saat ini beragam semisal Bappenas,PBB,BPS,SUSENAS memiliki takaran yang berbeda.

Hal tersebut mendorong saya untuk mencari data tersebut. Saya pikir sambil menyelam minum air. Ternyata saya menemui perbendaharaan kata baru yang menarik.

The Poverty Headcount Index atau The Incidence of Poverty menggambarkan prosentase dari populasi yang hidup di dalam keluarga dengan pengeluaran konsumsi per kapita di bawah garis kemiskinan.

The Poverty Gap Index atau The Depth of Poverty adalah kedalaman kemiskinan di suatu wilayah, yang merupakan perbedaan rata-rata pendapatan orang miskin dari garis kemiskinan sebagai suatu proporsi dari garis kemiskinan tersebut.

The Severity of Proverty menunjukkan kepelikan kemiskinan di suatu wilayah. Indikator ini memperhitungkan jarak yang memisahkan orang miskin dari garis kemiskinan, dan ketimpangan di antara orang miskin.

Ketiga hal tersebut merupakan beberapa perspektif untuk melihat proporsi masyarakat miskin di Indonesia. Lalu saya kembali berfikir apa ukuran untuk menghitung kategori masyarakat miskin.

Definisi ukuran Garis Kemiskinan Nasional ialah jumlah rupiah yang diperlukan setiap individu untuk makanan setara 2100 kalori per orang/hari dan untuk memenuhi kebutuhan non makanan berupa perumahan,pakaian, kesehatan, pendidikan,transportasi, dan aneka barang lainnya. Biaya untuk membeli 2100 kilo kalori/hari disebut Garis Kemiskinan Makanan sedangkan biaya untuk memenuhi kebutuhan non makanan disebut Garis Kemiskinan Non Makanan. Jadi kategori masyarakat miskin ialah manakala orang tersebut tidak bisa memenuhi Garis Kemiskinan Makanan dan Garis Kemiskinan Non Makanan.

Asumsi lain yang menggunakan ambang batas internasional yakni $2 untuk satu orang/hari dalam memenuhi kebutuhan hidup minimal menunjukkan sebanyak 71,1% total populasi Indonesia pada tahun 1990 dikategorikan masyarakat miskin. Hal ini berarti untuk mencapai Millenium Development Goals 2015, diperlukan pembenahan terstruktur dan mungkin massive untuk mendongkrak angkat tersebut menjadi setengahnya yakni sebesar 35,5 %. Sebagai pengingat, tujuan pertama dari MDG ialah pengurangan angka kemiskinan dan kelaparan sekurangnya 50% dari seluruh total populasi suatu negara.

Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia menempati urutan ke 108 dari 177 negara menurut data UNDP pada tahun 2006 yang lalu. Indeks Pembangunan Manusia berkaitan langsung dengan besaran proporsi masyarakat miskin. Lalu pada akhirnya memberikan dampak sejauh mana Indonesia akan berkontribusi pada MDG 2015. Indeks Pembangunan Manusia memiliki empat pengukuran yakni harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup. Kesemuanya tak pelak mencantumkan harga yang cukup mahal di negara kita sendiri.

Saya kemudian berfikir apa yang sekiranya dapat kita lakukan selaku angkatan kerja muda. Tidak banyak, atau mungkin hampir tidak ada yang bisa memberikan dampak langsung kepada peningkatan kemajuan masyarakat secara umum. Tetapi dengan waktu kurang dari delapan tahun, saya cukup optimis apabila semua angkatan muda mau sadar dan bertindak akan isu ini maka kita bisa memberikan sumbangsih yang baik.

Beberapa hal yang dapat kita lakukan ialah (1) penerapan good governance di lingkungan kita bekerja, (2) terus melakukan capacity building - dengan ataupun tanpa dukungan employer dan hal ini berarti kita melakukannya dengan swasembada, (3) menerapkan sistem perpuluhan atau zakat atau saluran apapun yang dapat memastikan sekian persen dari penghasilan kita untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Poin satu dan dua merupakan hal yang fundamental. Perbaikan moral dan juga peningkatan skill untuk SDM akan berimbas jangka panjang. Untuk poin satu, saya percaya dengan filosofi Pay It Forward. Kalau satu orang mulai melakukan hal baik dan dirasakan oleh orang lain, pasti dapat menghasilkan sesuatu yang baik. Transparansi kerja dapat mendukung keberhasilan organisasi dan bisa mendulang profit sehingga memperbesar operasional organisasi dan akhirnya dapat merekrut orang baru. Ya,tidak sesimpel itu tetapi pasti dapat dikerjakan. Untuk poin dua,tujuannya hampir mirip dengan poin satu. Dengan kita menambah modal/skill maka seyogyanya kita dapat menghasilkan kreatifitas dan capaian kinerja yang lebih mantap. Poin ketiga adalah bentuk dari rasa berbagi kita yang saya hakul yakin dapat memberikan kenyamanan pada kita mau memberi dan untuk mereka yang membutuhkan. Di tengah peliknya tantangan hidup, berbagi dengan sesama tetap menjadi hal yang mulia dan berguna.

Rasa apatis yang menyelimuti masyarakat akan program pemerintah untuk pengentasan kemiskinan bukan rasa baru. Tapi kita selaku angkatan kerja muda punya porsi untuk membantu semampunya kita. Biarlah kebijakan dan koordinasi teknis dikerjakan oleh bidak-bidak di pemerintahan, dan layaklah kita mengerjakan bagian kita.

It's hard to say good bye.......

Menit-menit meninggalkan Banda Aceh.. Sial, mata gw sudah cukup sakit tahan tangis. Geli juga ngeliat gw bisa sedih begini. Acara kampanye kemarin di Bireuen berhasil dengan baik bersama rekan dari UNICEF. Beban sudah selesai. Ruangan kantor sepi karena banyak yang harus turun ke lapangan.

Sepulang dari Saree masih sempat mengecap semua pemandangan bukit barisan yang akan tetep gw inget sampai tua. Selama perjalanan menuju Banda Aceh, semua kilas balik selama 14 bulan di Banda Aceh kembali teringat. Sedih, itu yang gw rasakan sekarang.

Semua kenangan dari berangkat ke kantor dengan sepeda, ngobrol ngalur ngidul di warkop taufik dan ulee kareng sambil nikmatin kopi hitam, nonton bola sama aa-aa di staff house, ultah atasan yang seru banget di rumahnya, karakoean di Lamnyong Resto, diving sampai hitam legam di sabang, berenang dari iboih ke pulau rubiah sama ata dan reggy, menikmati siang di pantai lhok nga dan lampuuk,ngabisin malam dengan geng World Bank dan Arrnet di pace bane,bandelnya gw di rumah sampai bunda dan kakak dan aa marah-marah, masak-masak bareng sama temen2 AMM di rumah mala, menikmati bau pohon pinus di bukit barisan kalau ke meulaboh,  abang chairil-supir becak yang baik banget yang nemenin kemanapun gw mau, serunya naik l300 dengan supir yang lagi nyi****g, nyanyi sampai serak sama joseph, rasa girang pas AW buka di banda aceh, semua kekonyolan yang dibuat supir ter'canggih', brendi dan security ter'panas', shadiqi, pusingnya ngerjain laporan kegiatan,ah,semuanya sudah berlalu.

Terlalu banyak kenangan selama kerja di Banda Aceh. Gw akan selalu cinta dengan tanah rencong ini dengan segala keindahan alamnya.

thanks to you guys,,

Dimampukan untuk mendapat akses menuju keberhasilan, kamu salah satunya?

Hal yang lumrah apabila saya dan juga teman-teman saya kadang mendiskusikan keberhasilan atau mungkin lebih tepat bila dikatakan yang sudah kita raih sampai saat ini.

Baru sesaat yang lalu saya terusik dengan komentar teman kantor saya. Sebenernya mungkin komentarnya biasa saja yakni menurutnya orang-orang yang mampu akan lebih mudah mendapatkan akses menuju kesuksesan ketimbang orang yang berasal dari kondisi keluarga seadanya.

Saya sendiri setuju dengan pendapat tersebut walau pada akhirnya kerja keras orang tersebut yang menentukan berada dimana si orang itu di titik akhir. Semisal, lulusan universitas yang berada di Indonesia Timur akan sulit bersaing dengan lulusan universitas di Jawa.

Saya sendiri ingin berpendapat kalau sangat disayangkan buat teman-teman yang dimampukan untuk berhasil hanya tidak mau menggunakan kesempatan yang sudah diberikan. Menurut teman saya (lagi), saya selayaknya bersyukur atas apa yang sudah saya dapatkan sekarang dengan rentang usia yang terbilang junior.

Lulusan universitas negeri favorit lebih bisa mendapatkan kemudahan untuk berkarir dibandingkan dengan lulusan universitas negeri 'biasa'. Namun bila kita menilik usaha meningkatkan modal diri dalam diri kita tentu ada harga yang harus dibayar. Pada poin ini, saya dan juga banyak orang lain mungkin berpendapat sama yakni orang-orang yang dimampukan seringkali lebih mudah menuju keberhasilan.

Dengan tingkat persaingan yang demikian ketat dan tuntutan keahlian yang diharapkan calon employer membuat semua SDM giat memperkaya ilmu. Untuk memperkaya ilmu jelas membutuhkan biaya. Yang memiliki biaya tersebut jelas harus memiliki modal dalam artian uang. Siapa yang memiliki modal tersebut haruslah seseorang yang cukup mampu untuk membiaya kebutuhan primernya terlebih dahulu. Jadi, mereka yang memiliki uanglah yang pada akhirnya memiliki keahlian/kemampuan lebih.

Semisal, bagi saya yang bergerak di bidang komunikasi, tidak cukup untuk memiliki keahlian komunikasi dengan ilmu khusus yakni public relations. Kebanyakan perusahaan saat ini menuntut multi tasking yang menuntut kita untuk memperkaya modal. Contoh keahlian-keahlian lain yang dituntut untuk profesi saya ialah design grafis dan menulis. Belum lagi kemampuan managerial lain seperi project management, issue advocavy with media dan lainnya yang mungkin bisa didapat melalui short course ataupun buku-buku. Inipun membutuhkan biaya.

Dengan kebutuhan hidup dan tuntutan persaingan yang demikian ketat, biaya untuk memperkaya diri menjadi sedemikian penting.

Akhirnya, sangatlah sayang bila ada orang yang membuang kesempatan untuk berhasil manakala ia dimampukan untuk itu.

Bekerja di Lantai 17

Sekarang hampir 3 minggu gw bekerja di lantai 17 ini. Ruangan yang gw tempati terbilang nyaman dengan jendela besar menghadap sudirman. Seneng juga pagi-pagi bisa liat jalanan. Gedung depan gw sih apartemen. Kadang malas juga lihat jemuran handuk warna-warni yang terpampang itu. Tapi pemandangan yang selalu gw pasti lihat ialah langit abu-abu jakarta. Langit kok abu-abu?!

Keseharian gw di gedung tinggi ini jelas berbeda dengan rutinitas kerja gw kalau di Aceh. Di Aceh,kondisi gw jauh lebih nyaman. Hidup juga lebih teratur di sana. Semisal, ritual pagi gw kala di sana dimulai dengan menyiapkan teh/kopi sendiri dan memulai membaca renungan di sebuah website. Sesudah semua itu gw lakukan baru memilah pekerjaan mana yang harus dikerjakan. Ruang yang gw tempati terbilang luas karena hanya ada dua orang di dalamnya. Kita berdua masuk dalam tim Cross Cutting Support. Kalau siang, makan bareng sama temen-temen yang -sayangnya- hampir itu-itu saja menunya yakni Bakso khas Aceh atau nasi dan lauk-pauk khas Aceh.

Suasana di kantor Aceh juga jauh lebih kekeluargaan.Dalam artian jarang sekali kantor terlihat seperti 'kantor'. Tidak jarang, dua komputer memasang lagu-lagu MP3 sampai terdengar ke seluruh ruangan. Salah satu pelakunya ya gw ini. Tapi untungnya gw dan temen seruangan gw punya selera musik yang hampir sama. Jadi lagu-lagu yang sering kita denger bareng ga jauh dari Jamiroquai,Ermy Kulit,Dewa,Vina Panduwinata,Ruth Sahanaya,Padi,Level 42,The Rippingstone,de el el. Tapi suka ga tahan kalau temen gw mulai pasang dangdut.hehehe...

Di Kantor Jakarta, tampilan gw juga beda. Mengapa? Karena semua baju kantor gw masih di Aceh, jadilah gw tampil seadanya-yang lebih ke arah berantakan. Ah, lagipula kalau gw pakai pakaian kantor Aceh pasti ga cocok dengan suasana di Jakarta. Kenapa? Karena kebanyakan baju terusan gw baju gambis.Note: Aceh.

Tapi suasana yang paling gw rindukan di Aceh ialah waktu 'ngabur' saat week end di sabang untuk diving atau jalan-jalan pagi dengan sapi-sapi sambil menghadap bukit barisan. Gw ini orang desa atau orang kota ya?

Bekerja di lantai 17 memang menyenangkan sih dengan ritme kerja yang berbeda dan cukup menantang. Jadi inget kali pertama gw masuk kerja dengan menggunakan Kopaja 57 itu. At that time, i felt like someone saying 'welcome to the real world, dude'! Yeps, berkutat dengan banyak orang untuk memulai mencari penghidupan merupakan hal menarik di pagi hari. Herannya, kenapa ya muka-muka orang di dalam bis itu carut marut? hehehe... Atau mungkin gw doang yang terlalu santai sampai tebar senyum sana sini sama para penumpang bus. Doelah..

Rutinitas di lantai 17 ini mulai hidup dari jam 9.30.Mungkin karena kondisi jalan raya yang membuat orang sering tidak bisa datang on time kali ya. Perbedaan paling unik manakala jam makan siang dimana gw berkutat dengan sejumlah kolega kerja yang notabene sudah berumah tangga semua. Seru! Obrolan itu dari urusan makanan, cerita anak-anak mereka. Khas ibu-ibu lah. Tapi itu semua ga buat gw bosen, seneng banget malah. Ga di Aceh, Ga di sini, gw tetep anak paling muda. Tantangannya satu, memastikan gw berada di platform yang sama dengan seluruh rekan yang terbilang senior dan ahli di bidangnya.

Gw sendiri melihat ritme kerja gw selama di Jakarta melambat luar biasa. Entah kenapa gw masih mandeg dengan apa yang harus kukerjakan saat saat ini. Well, ada sih yang gw kerjakan menjelang eksebisi air 3 hari lagi. Tapi karena kita sudah mempekerjakan satu konsultan humas, jadilah sekarang gw ga ada kerjakan.He he he

Kelebihan dari bekerja di lantai 17 ini juga pemandangan orang-orang yang beragam sekali di gedung ini. Menarik!

Public Policy or Profit 'policy'

I am back..in the capital city of Indonesia. It's a weird felling to live and work here again for more than two weeks. Good thing that i'm easy to adapt with changes.ha ha ha

So again i'm dealing with water issues. It's water privatisastion!!! Oooo yeeeahhh, tricky issue yet it's important.

Here's the thing. Less than 30% of indonesians in rural area get water access (hell yeah).Meahwhile everbody need water. If people hear about water privatisation without clear understanding most likely they will 'scream' and say 'Water is from the Creator, it is not right to make it as a business'. Then i will say 'Dude,try to open your eyes wider plus read more will ya!' :-)

Why would i say that? Here's why:

Yes, the water is made from the Creator. It's given. But, it is the process to make it usable that is needing some funds. PDAM give services to provide the water not selling the water.

Mmm btw, before i get wrong impression i have to say again that this is fully my opinion and i'm not representing any organization.

The payment that goes to customer is to cover water pipe system from the mountain and or to process the raw water/waste water into water that can be used for customer. It is supposedly to be ready use but again since limited buget to maintain the water pipe with all the holes and or leakage all the way to the house, of course we as consumer have to boil it first.

If we think with more than 250 million people in Indonesia and if we really want to achieve Millenium Development Goals then there's no way we are able to provide water for the poor unless together with national policy and private sectors work really hard to find alternative for water financing.

One of the report taken from www.psiru.org/reports/2003-03-w-finance.doc says this:

"water pays for water is no longer realistic in developing countries. Even Europe and the US subsidise services...Service users cant pay for the level of investments required, not for social projects..."

So it shows the dillema. Again situation in our country, organization who rules the water is a owned by Government. As usual (heck, i dont want to give wrong  statement, but this is what i feel as a good citizen who pay annual tax) a lot of management issues within the organization has to be re-structured. If i'm in private sector side, i would not give a financial support or even soft loan for water financing if i can't see Return on Investment plus i dont want to give any financial support or loan to such lack of management organization. We're not talking about 1 trillion but lots more, rite!

Despite of that situation, alternative for water financing is really crucial to help our brethern and sister all around our nation may have 'water'. The first step is advocacy issue about what is alternative financing to water access. Second i think our gang have to prepare great fact sheets to have support from the one who holds the supremacy - and then they came out with national advocacy. (Geez, i hope it's really okay to talk about this). Last, strong support for matrix of ROI and all other thingy related to convince private sector to jot down the details and make it  really happen... well if it's not this year, at least we  have to reach the MDG before 2015.

Water issue has been an issue since early 1990s.. somehow it's not so booming that people easily forgotten about one of the most important element in our life. So yeah i think it's public policy not profit policy...